Home » , » Politik - Jangan sekali-kali terperangkap menjadi fanatik, ekstrem atau idealis kental.

Politik - Jangan sekali-kali terperangkap menjadi fanatik, ekstrem atau idealis kental.

Written By Wadah Baru on Ahad, 21 Ogos 2016 | 10:16 PG

Oleh Fathi Aris Omar

Kalau kita terlibat dalam politik, apa jenis politik sekali pun, kita jangan sekali-kali terperangkap menjadi fanatik, ekstrem atau idealis kental.

Harus ada ruang gerak yang sedikit pragmatik dan realis sekira-kiranya perlu untuk keanjalan berstrategi. 

Jika kita terlalu fanatik sehingga membeku dan terlalu yakin diri tanpa menilai gerak politik persekitaran di sekeliling kita, pilihan-pilihan gerak kita akan terbatas.

Kekakuan ini akan merimaskan kita sehingga menyebabkan kita lemas.

Atau, kita tidak mampu menyusun gerak untuk mengambil ruang sewaktu muncul kesempatan untuk memajukan agenda bersama.

Tidaklah pula bermakna kita tidak harus idealis, tidak harus bercita-cita murni atau tidak berprinsip.

Dalam politik, setiap gerak boleh disusun, termasuk menangguhkan kepentingan kecil demi kepentingan bersama yang lebih besar.

Jika kita boleh mengkritik dengan hujah yang rasional dan bernas, sekali gus tidak mencipta tembok perseteruan tajam, maka ini bermakna kita realistik dalam idealisme kita.

Jika kita terpaksa sedikit tawadhu' dan mengendurkan posisi kita, sekira-kiranya tidak menghilangkan prinsip dan himmah diri, maka inilah pendekatan yang tidak fanatik, tidak ekstrem dan tidak idealis kental.

Dengan kata lain, kita tidak boleh mempersiapkan jentera serangan tanpa menyediakan jentera perdamaian; mempersiapkan ketumbukan yang meruntuhkan tanpa menyediakan pasukan pembangunan semula.

Menyerang, menangguhkan serangan, berdamai dan menangguhkan perdamaian semuanya strategik dan taktik dalam politik.

Pendek kata, untuk anak muda, jangan keliru antara prinsip dan idealisme dengan sikap fanatik dan sikap ekstrem.

Kita, manusia, selalunya tidak sanggup menggenggam bara api sampai padam. Jika kita sanggup seorang diri, sementara teman-teman menyisihkan diri, maka itu bukanlah politik.

Sikap menggenggam bara api sampai padam seorang diri sikap nabi dan intelektual. Serahkan pada mereka untuk menjulang panji idealisme tulen lagi utuh.

Politik, atas sifatnya yang ramai-ramai dan pragmatik, tidak akan menjadi gerakan para nabi dan para intelektual.

0 ulasan:

Catat Ulasan

Follow by Email

 
Copyright © 2015 Wadah Baru - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger